Minggu, 10 Juli 2011. dari Studio 2 Radio Sipatahunan…

HM dan MT sebagai host | foto : erick kimi raikko

 

Siaran kali ini terasa ramai. Selain MT dan Harris Maulana (HM), Saung Nyerat kedatangan 4 orang teman dunia maya. Mereka adalah para penulis di Kompasiana. Dari yang paling muda, Aryani Leksonowati, seorang kompasianer yang mengaku sebenarnya lebih suka fotografi ketimbang menulis. Namun setelah mencoba Kompasiana, akhirnya baru percaya kalau menulis itu memang gampang. Lain lagi dengan Erick Kimi Raikko. Kompasianer yang satu ini memang kerjanya dari industri teks alias penerbitan. Baginya, kompasianer adalah tempat khusus untuk menyalurkan kreatifitas menulis yang bersifat pribadi dan di luar dunia kerjanya. Arrayanov Novi sengaja datang dari Bintaro untuk ikutan acara ini. Ia mengaku bergabung dengan kompasiana karena ada pengaruh brand Kompas. Pernyataannya ini diamini oleh semua yang ada di studio 2. Yang keempat adalah seorang dokter hewan yang rendah hati dan usianya paling tua di ruangan ini, Arifin Basyir. Ia blak-blakan bilang kalau kompasiana merupakan pengalaman pertamanya dalam dunia menulis dan berinteraksi secara online.

narsum mengisi buku tamu (arifin, arrayanov, aryani, arharis ;p) foto : erick kimi raikko

 

Dari keempat narasumber yang masing-masing memiliki ciri khas di lapaknya (sebutan untuk blog di kompasiana), kami mendapatkan banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dalam ngeblog dan berkomunitas.

Yang pertama adalah tentang bagaimana komunitas itu berjalan secara natural, tidak perlu direkayasa semacam partai politik. Dengan berjalan apa adanya, otomatis akan terseleksi mana yang benar-benar loyal terhadap pertemanan, dan mana yang hanya sekedar mampir, cari popularitas, ngeceng, dan mana yang paling banyak nglebok 🙂

Berkomunitas di kompasiana tidak bersifat integral. Para kompasianer (sebutan untuk blogger kompasiana) bebas membentuk beragam komunitas sesuai dengan kesamaan visi, kepedulian, dan kegembiraan. Ada komunitas yang concern dalam kegiatan sosial/donasi, ada yang khusus pecinta fiksi, dongeng anak, humor, politik, kuliner, bahkan komunitas/grup pecinta polemik. 😀

Whats??? Memang tidak sedikit orang yang memandang negatif setiap munculnya polemik. Bahkan ada beberapa teman blogger yang enggan bergabung ke Kompasiana karena menyaksikan berbagai polemik di sana. Tetapi justru inilah salah satu keunikan kompasianer. Mereka justru memandang, seramai apapun sebuah polemik, justru harus dikelola dengan energi positif sehingga berujung dengan sebuah kegiatan konstruktif.

Arrayanov menceritakan pengalamannya ketika menebar polemik tentang negara serumpun kita yang kebiasaan “ngaku-ngaku” sebagai pemiliki karya budaya Nusantara. Ramailah lapaknya dengan ribuan komentar pro dan kontra. Tetapi akhir dari polemik tersebut justru menghasilkan sebuah website yang amat penting bagi pelestarian dan pengembangan budaya cinta anak bangsa, yaitu www.anaknusantara.com. Situs tersebut berisi kumpulan dongeng dan cerita anak indonesia.

Banyak contoh lain kegiatan konstruktif di kalangan kompasianer, yang dimatangkan dengan polemik. Salah satunya adalah Malam Prosa Kolaborasi, yang dipicu oleh perdebatan tentang status dan derajat fiksi di kompasiana. Bagi para kompasianer, seheboh apapun polemik terjadi, harus dipandang secara positif dan sebisa mungkin diarahkan pada sebuah akhir yang produktif dan atau konstruktif.

Salut sekali dengan semangat teman-teman Kompasianer. Mereka bisa dibilang orang-orang yang berani menulis apapun meski harus berhadapan dengan ratusan komentar negatif. Namun satu hal yang mereka pegang bersama adalah, bagaimana polemik yang tumbuh tidak mengangkat isu SARA.

Terima kasih buat Kimi Raikko, Arrayanov, Arifin Basyir, dan Aryani.

Waktu menunjukkan pukul 17.00, on air berhenti dan kami melanjutkan perbincangan di warung Ayam Geprek yang tak jauh dari studio Radio Sipatahunan.

sumber foto : erick kimi raikko sang kompasianer

Reportase SN 10 Juli 2011: Bagaimana Kompasianer Mengelola Polemik
Tagged on:         

One thought on “Reportase SN 10 Juli 2011: Bagaimana Kompasianer Mengelola Polemik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *