Nampaknya sepele. Maksudnya ketika kita mengomentari sebuah tulisan di blog. Namun, apa yang anda rasakan ketika tiba-tiba tulisan di blog anda direspon dengan komentar yang pedas, kata-kata sinis, atau malah cacian dan sumpah serapah? Nyamankah anda? Bila peristiwa itu terjadi pada kita, barangkali kita akan berpikiran betapa tidak sopannya orang yang menuliskan komentar tersebut. Saya juga tidak akan heran bila sebagian dari anda kemudian jadi ketakutan, gemetaran, deg-degan, terus memikirkan, bahkan sampai tidak bisa tidur. Siapakah yang salah?

Mungkin saja kita yang salah. Secara tidak sengaja kita membuat tulisan yang menyinggung orang lain. Seperti yang saya alami, saya bahkan tidak hanya menyinggung satu orang tetapi sebuah komunitas. Anda tahu akibatnya? Saya diserang habis-habisan sebagaimana yang pernah saya ceritakan dalam Cara Membuat Tulisan Kontroversial Untuk Blog. Anda pikir saya memang sengaja membuat sebuah tulisan untuk menyerang sebuah komunitas? Tentu saja tidak. Itu murni kecelakaan. Maksud saya, apa yang saya tulis dengan niat baik ternyata mencelakakan saya. πŸ™‚ Sebuah pelajaran yang sangat berharga. Dan itu menjadi bukti betapa tajamnya sebuah keyboard (bukan pena lagi) sehingga dampak yang ditimbulkan bisa bersifat masif.

Bagaimana ketika kita dalam posisi sebagai pihak yang memberi komentar? Akankah anda mencaci-maki dalam komentar anda bila menemukan tulisan yang menyinggung perasaan? Semua itu tentunya tergantung individu masing-masing. Mungkin anda sekedar prihatin dan menyayangkan tulisan yang dibuat. Atau anda mengekspresikan emosi anda secara eksplosif dalam komentar yang anda tuliskan. Bisa juga anda menganggapnya tulisan itu biasa di era kebebasan berekspresi seperti sekarang ini.

Ketika komentar dituliskan, perlukah sebuah seni dalam membuatnya? Bagi saya, diperlukan sebuah seni saat kita mengomentari sebuah tulisan. Seni dalam artian bagaimana komentar yang dibuat itu masih dalam koridor kesopanan. Komentar yang tidak menakutkan pemilik blog. Komentar yang meskipun tidak setuju dengan apa yang ditulis tetap masih menggunakan bahasa yang santun. Seperti arti yang terkandung dalam peribahasa kita, ”Bahasa menunjukkan bangsa.” Di saat komentar itu dituliskan, di situlah pembaca mempunyai ukuran yang bisa digunakan untuk menebak seberapa tinggi tingkat kesantunan dan pendidikan dari si pemilik komentar. Namun, namanya juga tebakan, mungkin saja tidak tepat.

Arti lain dari seni dalam berkomentar adalah kejujuran. Saya pernah menerima lima komentar yang isinya sama: arogansi, mencela, mencaci, dan merendahkan. Komentar itu ditulis oleh empat orang yang berbeda-beda namanya. Namun karena gaya bahasa yang digunakan dan isinya yang senada, saya jadi curiga bahwa komentar-komentar itu ditulis oleh orang yang sama. Dan ternyata memang benar. Kecurigaan saya terbukti dari IP Address yang digunakan yang hanya satu. Itulah kebodohan yang tidak dia sadari sehingga identitasnya bisa terungkap. Dengan demikian dia juga telah mempertaruhkan kredibilitasnya dengan melakukan kebohongan semacam itu. Meskipun dia menggunakan nama samaran yang berlawanan dengan jenis kelamin aslinya, saya tahu persis dia itu laki-laki atau perempuan. Agar tidak mempermalukan dia, saya berusaha agar ’skadal’ ini tidak menjadi berkepanjangan dan tidak mengeksposenya. Toh kemudian ada pembaca lain yang menyerang balik ke dia. Dan saya juga tahu dengan pasti penyebab mengapa dia menulis komentar semacam itu. Tulisan saya dianggapnya menyerang dia. Alamak!

.

Jadi, saudaraku, di saat anda akan mengomentari sebuah tulisan di blog, santun dan jujurlah. Dengan demikian berarti anda sudah melibatkan seni dalam komentar anda. Tapi, maaf, bolehkah saya buang air seni? Sudah nggak tahan. πŸ˜‰

Sumber gambar: di sini

Salam,

WKF yang ada di wongkamfung.boogoor.com

Seni Mengomentari Tulisan

12 thoughts on “Seni Mengomentari Tulisan

  • 27 June, 2010 at 6:14 am
    Permalink

    oke.. trima kasih sarannya..

    Reply
  • 27 June, 2010 at 11:35 am
    Permalink

    saran yg keren… thanks y

    Reply
  • 27 June, 2010 at 1:48 pm
    Permalink

    roger that..saran diterima..thanks πŸ™‚

    Reply
  • 27 June, 2010 at 3:07 pm
    Permalink

    halah,, ampe ada seninya segala dah :p

    Reply
  • 28 June, 2010 at 6:50 am
    Permalink

    orang bebas berbicara apa saja di blog selama tidak berbau sara dan merugikan orang lain

    Reply
  • 28 June, 2010 at 9:29 am
    Permalink

    hmm……….begitu ya…..hmm

    Reply
  • 3 July, 2010 at 11:58 am
    Permalink

    gimana dengan komentar yang bersifat spam bro? ada seninya juga gak?

    Reply
  • 6 July, 2010 at 4:28 pm
    Permalink

    tenang tenang…kalo g suka ama komennya tinggal apus ajaaaaa

    Reply
  • 6 July, 2010 at 5:35 pm
    Permalink

    siapa saja boleh kasih komen, tapi kalau tidak jujur dan santun, mending tidak usah saja.
    thx atas tulisannya yang mendidik

    Reply
  • 15 July, 2010 at 1:09 pm
    Permalink

    semua is free, tpi jangan ampe menyakiti ya…

    Reply
  • 14 September, 2010 at 7:50 pm
    Permalink

    “Komentar” pada sebuah blog.. beribu maksud.. Beda dengan gambar yang beribu makna..

    Komentar itu kan bumbunya posting πŸ™‚
    Kalo pada sebuah artikel komen nya sejalan semua dengan buah pikiran penulisnya juga ga seru..!
    Kalo kita ga se paham ya jangan sungkan untuk katakan.. tetunya dengan adab !

    Sensor / diperhalus bahasanya aja kalimat yg dianggap kurang sopan, dan biarkan komentar itu nongol setelah melalui sensor dari author.

    Reply
  • 27 September, 2010 at 7:38 pm
    Permalink

    Wa…h,,,

    bapa2 dan ibu2 disini sangat super sekali… hehehe

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *