tas-rm-tasBeberapa waktu yang lalu saya mendapat bingkisan yang sangat luar biasa. Begitu luar biasanya sehingga saya bahkan menyebutnya harta karun. Mengapa? Karena yang diberikan itu adalah dokumen-dokumen tentang RM Tirto Adhi Soerjo (TAS) dan yang memberi adalah keturunannya langsung. Siapa itu TAS? Tahukah anda jika TAS itu pahlawan nasional yang rumahnya ada di Tanah Sareal dan jasadnya dimakamkan di Blender?

TAS adalah pejuang sejati, pembela rakyat kecil, dan juga pendukung emansipasi wanita. Jangkauannya tidak hanya bersifat lokal tapi tersebar di berbagai belahan nusantara. Pihak Belanda waktu itupun segan terhadapnya. Melalui koran pertama berbahasa Melayu yang dia terbitkan, dia menyebarkan ide-idenya. TAS adalah pendiri koran pertama Indonesia, Medan Prijaji. Dia mendapat anugerah semasa Orde Baru di tahun 1973 sebagai Perintis Pers Indonesia. Di masa pemerintahan SBY sekarang ini, selain gelar pahlawan nasional, TAS juga memperoleh tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana yang diserahkan kepada keluarganya pada 3 November 2006.

RM Tirto Adhi Soerjo yang nama kecilnya Djokomono adalah anak kesembilan dari 11 bersaudara. Dia lahir di Blora tahun 1875. Ayahnya seorang pegawai kantor pajak pada masa pemerintah Hindia Belanda bernama Raden Ngabehi Tirtodhipoero. Setelah orangtuanya meninggal, TAS kemudian ikut neneknya Raden Ayu Tirtonoto. Dari neneknya inilah TAS diajarkan untuk menjadi manusia yang mandiri. Didikan neneknya telah menumbuhkan jiwa entrepreneur dalam diri TAS.

Menyoroti tahun kelahiran TAS, sayangnya, saya menemukan adanya perbedaan dalam artikel dan berita di media, majalah, maupun buku. Banyak yang menyebutkan tahun kelahiran TAS 1880. Padahal dalam buku yang ditulis anak sulung TAS, RM Priatman, yang berjudul Perdjoangan Indonesia dalam Sedjarah, cetakan kedua, diterbitkan oleh Badan Penerbit Patani, Bogor tahun 1950, di situ disebutkan TAS lahir 1875. Saya rasa perbedaan itu terjadi karena sumber yang digunakan sama yaitu buku biografi RM Tirto Adhi Soerjo tulisan Pramoedya Ananta Toer berjudul Sang Pemula. Dalam buku itu dituliskan tahun kelahiran TAS adalah 1880.

1880 yang dinyatakan sebagai tahun kelahiran TAS saya temukan dalam:

  1. artikel di Kompas, 1 Januari 2000, tulisan Th Sumartana,
  2. opini di Pikiran Rakyat, 27 April 2006, tulisan Prof. DR. Nina Herlina Lubis, M.S., Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Unpad,
  3. reportase di Pikiran Rakyat 28 April 2006,
  4. artikel di Pikiran Rakyat, 9 November 2006, tulisan Prof DR. Nina Herlina Lubis, M.S.,
  5. reportase di Pos Kota, 16 November 2006,
  6. majalah I:BOEKOE! Edisi 1907-2007 Seabad Pers Kebangsaan, tahun 2007, halaman 14.

Penyebutan tahun kelahiran TAS yang lain lagi yaitu 1878 saya temukan dalam buku berjudul Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan karangan Ahmat Adam, Guru Besar di Universitas Malaysia Sabah. Entah dokumen mana yang digunakan oleh pak Guru Besar ini.

Nomor 1, 2, 4, 5, dan 6 juga menyebutkan tahun kematian TAS yang berbeda dengan yang ditulis oleh RM Priatman. Lima tulisan di atas menyatakan tahun kematian TAS 1918 sedangkan RM Priatman dalam bukunya menyebutkan 1917.

Bila saya disuruh memilih, sudah pasti saya akan memilih dan lebih percaya yang berasal dari keturunan TAS langsung. Bagaimana dengan anda? Biar anda tidak penasaran, berikut saya nukilkan tulisan yang berbentuk puisi yang dibuat oleh RM Priatman tentang romonya, RM Tirto Adhi Soerjo, dalam buku Perdjoangan Indonesia dalam Sedjarah halaman 89.

SIAPA PELOPOR DJURNALISTIK DI INDONESIA

1875 – 1917

Raden Mas Tirtoadisoerjo

Nama ketjilnja Djokomono

Keturunan Tirtonoto

Bupati Bodjonegoro.

Peladjar S.T.O.V.I.A. di Djakarta

Penulis pembela Bangsa

Membasmi sifat pendjadjah Belanda

Dengan tulisan jang sangat tadjam penanja.

Membuka sedjarah Djurnalistiknja

“Medan Prijai” warta hariannja

Suluh keadilan dan Putri Hindia

Ada dalam pegangan Redaksinja.

Tiap perbuatan dari pendjadjah,

Jang akan membuat lemah,

Terhadap Nusa dan Bangsa kita,

Diserang dan dibasmi dengan sendjata penanja.

Akibat dari sangat tadjam sendjata penanja

Pendjadjah dengan kekuasaannja

Mendjatuhkan hukumannja

Marhum Tirtoadisoerjo diasingkan dari tempat kediamannja.

Lampung adalah tempat tudjuannja

Setibanja di pengasingan terus berdjuang

Tak ada tempo jang terluang

‘ntuk membela Nusa dan Bangsanja.

Pelopor Djurnalistik Indonesia

Tahun 1875 adalah tahun lahirnja

Pada tahun 1917 wafatnja

Mangga Dua di Djakarta beliau dimakamkannja.

Setelah neneknya meninggal, TAS pindah ke rumah saudara sepupunya di Madiun. Kemudian ke Rembang untuk tinggal bersama kakaknya RM Tirto Adi Koesoemo yang menjadi Jaksa Kepala di sana. TAS selanjutnya masuk sekolah kedokteran, STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), di Batavia pada usia 14 tahun. Sayangnya pendidikan itu tidak dia rampungkan.

Walaupun pendidikannya di STOVIA berhenti, kepintaran TAS dalam jurnalisme terus berkembang. Sebelum menjalankan korannya sendiri, TAS sering mengirim tulisannya ke sejumlah surat kabar dalam bahasa Belanda dan Jawa. 17 April 1902, cerita bersambungnya yang berjudul Pereboetan Seorang Gadis dimuat pertama kali di Pembrita Betawi. Setelah itu, di bulan Mei 1902 TAS ditunjuk F Wiggers menjadi pemimpin redaksi Pembrita Betawi tetapi di tahun 1903 berhenti karena berbeda pendapat dengan Wiggers.

Masih di tahun 1903 setelah keluar dari Pembrita Betawi, TAS mendirikan koran sendiri Soenda Berita yang diterbitkan setiap hari Minggu bekerjasama dengan Bupati Cianjur RAA Prawiradiredja. Koran ini merupakan surat kabar pribumi pertama yang menggunakan bahasa Melayu yang dikelola dan didanai oleh pribumi. Sayangnya Soenda Berita hanya bertahan sampai 1906. Agar anda juga bisa menikmati seperti apa tulisan yang dibuat pada masa itu, berikut saya salinkan resep masakan favorit saya yang ternyata pada saat itu sudah ada meskipun sedikit berbeda namanya. Resep Lembaran (saya menyebutnya Lembarang) ini dimuat dalam Soenda Berita terbitan hari Minggu, 14 Februari 1904. Selamat menikmati masa nostalgik bersama RM Tirto Adhi Soerjo.

LEMBARAN

olih Raden Ajoe Poerodimedjo

 

Ajam 1 dipotong-potong, abis dimasak sama aier klapa seprapat di bakar doeloe sabentar; bawang bakar 3 sindok makan, kemiri bakar 50, laos bakar 3 iris dan garem 2 sindok thee, ditjampoer abis ditoemboek aloes dan lantas di goreng sama minjak goerih 3 sindok makan, sampe mateng. Kaloek soedah, ajam tadi ditjaboeti toelangnja lantas daging dan boeljonnja ditjampoer sama boemboe tadi, abis di masak.

 

Kapan soeda masak sebentar ditambahi santen klapa setengah, sere 1 potong, daon djeroek poeroet 2 lembar dan blimbing asem (tjalintjing) belahan 4; abis di masak teroes, sampe boeket koewahnja.

Setelah Soenda Berita, TAS kemudian menerbitkan Medan Prijaji pada 1 Januari 1907. Pena TAS terkenal tajam. Tulisannya membuat takut para penguasa dan bangsawan yang korup. Di lain pihak TAS dan Medan Prijaji-nya menjadi tempat mencari keadilan bagi rakyat kecil. Karena tulisannya yang berani itulah TAS pernah dibuang sebanyak dua kali ke Teluk Betung Lampung (1910) dan Ambon (1913). Keberaniannya juga lah yang akhirnya mengakhiri Medan Prijaji pada 22 Agustus 1912. Disamping Pembrita Betawi, Soenda Berita, dan Medan Prijaji, sejumlah surat kabar lain yang pernah dikelola TAS adalah Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia, dan Sarotomo.

tas-ra-siti-suhaerahTAS menikah pertama kali dengan putri bangsawan Cianjur bernama Raden Ayu Siti Suhaerah. Dari perkawinan itu lahirlah RM Priatman. Dalam perkawinan keduanya dengan RA Siti Habibah, TAS memiliki anak RA Julia dan RM Hasan. Setelah itu TAS menikah dengan Prinses Fatimah atau lebih dikenal dengan Prinses van Bacan yang dinikahi saat dia berada di Maluku.

tas-makamKesehatan TAS sering terganggu setelah kembali dari pembuangannya di Ambon. Pada 7 Desember 1917 TAS akhirnya meninggal. Dia awalnya dimakamkan di Mangga Dua Jakarta. Oleh keluarganya, jasadnya kemudian dipindahkan ke pemakaman Blender, Kebon Pedes, Bogor tahun 1973. Tanggal kematian itulah, 7 Desember, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Pers Indonesia sebagai bentuk penghormatan kepada TAS, dan tahun berdirinya Medan Prijaji, 1907, dijadikan sebagai awal tahun pers kebangsaan. Dengan demikian, saat ini usia pers kebangsaan sudah mencapai 101 tahun. Soedah tjoekoep toea boekan?

Catatan:
Artikel ini pernah saya tulis di kampungantenan.blogspot.com dan wongkamfung.wordpress.com

Salam,
WKF yang ada di wongkamfung.com

RM Tirto Adhi Soerjo

17 thoughts on “RM Tirto Adhi Soerjo

  • 25 January, 2010 at 4:09 pm
    Permalink

    hmm….
    soal Tirto Adhi Soerjo sebenarnya sudah ditulis versi fiksinya oleh Pramoedya Ananta Toer. Tertalogi Pulau Buru adalah roman sejarah yang sebenarnya menceritakan sebahagian besar jejak hidup pelopor jurnalisme Indonesia ini. Dalam roman itu, nama TAS disamarkan menjadi Minke yang berarti monyet. 😀

  • 25 January, 2010 at 4:22 pm
    Permalink

    Betul kang Rusle. Tetralogi Bumi Manusia memang betul2 ruaarrr biasa. Sangat pantas bila PAT pernah dicalonkan sbg penerima nobel bidang sastra. PAT juga menulis biografi TAS dalam Sang Pemula. Salam Blogor…

  • 25 January, 2010 at 6:56 pm
    Permalink

    wow…tokoh jurnalistik Indonesia ya….

  • 2 February, 2010 at 3:56 pm
    Permalink

    ehmmmmm, saya dari bojonegoro 🙂 tetangga blora.. nice post…

  • 6 February, 2010 at 6:55 pm
    Permalink

    wow, ini dia sosok yang harus dikenalkan ke permukaan. kadang saat ini, para generasi muda kurang mengetahui pahlawan/tokoh perjuangan Indonesia.
    Jujur, saya benar-benar baru mengetahui sosok ini.
    terima kasih sharing informasinya. Btw, salam kenal dari Ponorogo.

  • 16 February, 2010 at 7:41 pm
    Permalink

    Dan kini, saya jadi tahu. Dahsyat.

  • 19 February, 2010 at 8:54 am
    Permalink

    saya akhirnya tahu,….. 🙂

  • 20 March, 2010 at 8:34 pm
    Permalink

    Gue baru tau tentang RM Tirto Adi Soeryo setalah baca tulisan ini salut deh, gue kira RM itu “rumah makan”..he..he..maaf ya…

  • 12 May, 2010 at 7:36 pm
    Permalink

    perlu kejeian dlm mbaca tetralogi pram, sebab adakala ia gunakan nama minke, adakala juga ia sebut dengan tuan TAS, yg merupakan singkatan dari TirtoAdhiSoerjo, dan kadang juga ia sebut raden mas dalam tokoh novel tersebut

  • 28 July, 2010 at 11:37 am
    Permalink

    wah,,mas,,saya baru ngatamin tetralogi buru. disitu disebut kalo minke itu ga punya keturunan alias mandul..jadi yg bener yang mana ya? trus pertama dia nikah sm blasteran,,annelies, trus sm org tionghoa, terakhir prinses. hmm..jd sebenarnya PAT itu bikinnya fiksi dan ga persis bgt ya? ehh..gosipnya mau difilmin novelnya PAT,,itu bnr gak sih?

  • 29 July, 2010 at 11:37 pm
    Permalink

    tetralogi bumi manusia adalah bentuk karya fiksi dari biografi TAS 😉
    kabar akan difilmkan sih memang sudah agak lama.

  • 9 April, 2011 at 11:02 am
    Permalink

    jadi otobigrafi sebenarnya seperti itu..well karena canggihnya pram bikin versi fiksinya,smp disangka semua sesuai kisah nyata..jujur aja dia salah satu tokoh fav gw nih..ditunggu filmnya..

  • 20 May, 2011 at 7:52 am
    Permalink

    bkn brarti data2 yg dsajikan pat slh. roman sejarah bkn biografi, jd wajar2 sj tdk sm persis cerita/tokoh2nya. esensi tetralogi pulau buru adl soal kbangkitan pribumi mlawan kolonialisme (nasional&dunia). sbnrnya sayang jg kl naskah ini dvisualkan dlm film (aplgi dg kualitas perfilman nasional saat ini). percayalah, imajinasi yg anda bangun sndiri saat membaca buku2 itu akan jauh lbh indah dbanding visualisasi intepretasi orang lain.

  • 20 May, 2011 at 3:25 pm
    Permalink

    Dalam tokohindonesia dan mungkin website lain disebutkan pendiri SDI adalah Samanhudi di Solo. Mestinya kalau menurut cerita, pendirinya adalah TAS. Samanhudi hanya mengambil alih pimpinan setelah TAS di asingkan ke Ambon. Kalau keberadaan TAS sudah diakui dan diangkat menjadi pahlawan nasional, tentunya cerita sejarah tersebut juga perlu diubah.

  • 1 July, 2011 at 1:59 pm
    Permalink

    aku tadinya penasaran siapa itu minke,,
    sekarang jadi tau deh..

    makasih infonya…

  • 10 November, 2012 at 7:31 am
    Permalink

    Aku adalah pengagum R.M Tirto Adhi Soerjo dan Pramoedya Ananta Toer.. So, thanx artikelnya..

  • 2 June, 2013 at 12:38 pm
    Permalink

    Saya baca tetralogi pulau Buru waktu tahun 2011, tapi baru skrg 2013 saya tahu bahwa tokoh Minke yangdisamarkan sbg TAS disitu bener ada orangnya.
    Tapi agak lain ya sm fiksinya, soalnya istri pertama Minke kan Indo turunan Belanda bkn org Cianjur, trs istri keduanya org Tionghoa, dan istri ketiganya bener princess tapi ketemunya disini di Pulau Jawa..
    Ternyata orang Indonesia ada juga yang sepintar dan seberani RM Tirto Adisuryo, pada zaman itu khususnya..
    Alhamdulillahirobbil alamin

Comments are closed.