pict from google tag "social media"

Seorang blogger bisa saja berdiri sendiri. Seperti yang pernah kulakukan ketika baru pertama kali ngeblog pada tahun 2004. Saat itu aku sama sekali tak menduga ada komunitas blogger. Menjadi blogger pada saat itu digerakkan oleh keinginan untuk menulis apapun yang menggelisahkan kehidupanku.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai mengenal komunitas. Yang pertama kali kuketahui adalah komunitas BHI (Bunderan Hotel Indonesia). Mereka adalah para blogger urban yang ngumpul seminggu sekali di malam hari, di pinggiran Air Mancur Bunderan HI.

Lalu aku mengenal blogfam dan bergabung di dalamnya. Meskipun tak pernah sekalipun mengikuti kopdar (kopi darat), namun manfaatnya terasa sekali. Aku bisa mendapatkan informasi terbaru tentang perkembangan dunia blog, mengikuti kontes menulis, dan mengisi beberapa artikel dalam majalah online yang dikelola oleh komunitas yang saat ini tak kutahui perkembangannya itu.

Selanjutnya, aku merasa bahwa komunitas blogger itu penting juga untuk bukan sekedar meningkatkan kemampuan dan wawasan seputar dunia blog, tetapi juga menambah kekayaan sosial, yaitu banyaknya teman. Meminjam istilah yang sering diucapkan Profesor Sjafri Mangkuprawira, bagiku, teman-teman adalah social capital yang banyak memberikan manfaat. Terutama dalam hal memahami keberagaman dan memperluas jaringan.

Selanjutnya akupun menambahkan kekayaan sosialku dengan bergabung pada komunitas blogger lainnya. Dblogger (komunitas blogger blogdetik) dengan teman-teman yang spesial, memberikan wawasan kepadaku tentang dunia online yg lebih luas dari yang kukira. Kompasianer (blogger kompasiana) mengajariku bagaimana menulis dengan lebih tertata secara jurnalistik. Blogger SGD bahkan kuikuti juga, lantaran postinganku tentang salah satu peninggalan budaya dan agama di sana. Lalu aku tertarik dengan semangat muda DotS, komunitas blogger Semarang. Dan yang kini makin kurenangi adalah Blogor, komunitas blogger Bogor Raya, yang menjalin hubungan antar komunitas, seperti dengan deblogger (depok), be-blogger (bekasi), hingga ke Komunitas Blogger Solo (bengawan). Aku pernah menulis kesan khusus untuk blogor maupun dblogger di blogku ini.

Kenapa aku ikut beragam komunitas? Ya, justru karena keberagamannya itu. Apalagi komunitas blogger berbasis wilayah, nyatanya tak kaku dalam menerima keanggotaan. Meskipun kita berdomisili di luar wilayah tersebut, tetap bisa menjadi anggota. Seperti Blogor, yang dalam syarat keanggotaannya justru lintas wilayah. Asal tahu kataย  โ€œBogorโ€ saja, sudah bisa menjadi anggota.

Komunitas Blogger Sebagai Social Capital
Tagged on:         

6 thoughts on “Komunitas Blogger Sebagai Social Capital

  • 19 October, 2010 at 3:05 pm
    Permalink

    Pas bgt dengan tema pesta blogger tahun ini ya?! “Merayakan Keragaman”. I lik it. ๐Ÿ™‚

    Reply
  • 20 October, 2010 at 7:53 am
    Permalink

    betul banget sih.. cuma dari 2002 ngeblog..trus sampe skrg masih ajah susah buat ikutan kopdar dan jaga “kestabilan” jadi blogger.. mohon bantuannya.. hehehe… ๐Ÿ˜€

    Reply
  • 20 October, 2010 at 8:21 am
    Permalink

    Kalau tidak bisa iku Pesta Blogger, minimal blogwalking ya ๐Ÿ™‚

    Reply
  • 20 October, 2010 at 7:53 pm
    Permalink

    Semoga blogor bisa beri kontribusi untuk kemajuan -minimal- kota Bogor ya kang…

    Reply
  • 21 October, 2010 at 10:26 pm
    Permalink

    jelas banyak manpangat yg diperoleh dg menjadi anggota sebuah komunitas, salah satunya ya kapital yg sosial itu ๐Ÿ˜‰

    maju terus kang MT

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *