Earl Tupper lahir di Berlin, New Hampshire, dan dibesarkan dalam lingkungan yang membuatnya menjadi seorang entrepreneur secara alamiah. Pada umur 20 tahun, Earl Tupper mengambil kursus jarak jauh dalam bidang bisnis dan advertising. Tahun 1937, dia bekerja sebagai desainer di DuPont, yang membuatnya berinteraksi dengan dunia revolusi dalam bidang plastik. Sebagai desainer, Tupper bertanggung jawab untuk menciptakan variasi produk, kebanyakan untuk wanita. Dengan semangat inovasinya, kedisiplinan diri dan kemampuan entrepreneurnya, tetap saja Earl Tupper tidak memiliki ’sentuhan wanita’. Wanita kebanyakan tidak menyukai produk rancangannya.

Tupperware_Earl_Tup_329601g

Tahun 1939, Tupper telah cukup belajar tentang plastik sehingga mendirikan perusahaannya sendiri, The Earl S. Tupper Company. Sebagai hasil dari eksperimen jangka panjangnya dengan bahan polyethylene selama Perang Dunia II, Tupper menemukan metode pemurnian produk sampingan dari proses refining minyak mencari naterial yang berdaya tahan, fleksibel, tidak berbau, tidak beracun dan ringan.

Tupper sangat tertarik dengan kekuatan dan daya tahan dari plastik, peralatan yang tidak diperoleh dari pastik yang kaku dan keras, yang biasa digunakan saat itu. Malahan, bagusnya lagi, plastik ini bisa diwarnai dan dicairkan sehingga bisa diubah menjadi berbagai bentuk. Bahan plastik alami sekarang banyak digunakan untuk membuat Tupperware, bahan-bahan yang biasa digunakan bisa dilihat di http://www.partycasino.com/. Tupper memberi nama bahan polyethylene itu: ”Poly-T: Material untuk Masa Depan” dan mulai bereksperimen, membuat aneka wadah plastik. Karena keunikan peralatannya, Poly-T bisa dibuat ke dalam berbagai bentuk dan Tupper menemukan bahwa dia bisa membuat penutup plastik yang sangat revolusioner dengan menciptakan segel kedap udara.

Tahun 1947, paten dari tutup ber-”segel Tupper” akhirnya keluar. Setelah menghabiskan 42 tahun pertamanya merancang perhiasan kecil yang tidak berharga, Earl Tupper akhirnya bisa menciptakan sesuatu yang bernilai dan dibutuhkan oleh banyak orang pasca perang di Amerika. Tupper pernah dijuluki sebagai Thomas Edison-nya dunia plastik. Alat tupperware pertama adalah wadah untuk kebutuhan dapur berwarna putih susu berukuran 7 ons, yang disebut ”bell tumbler” karena bentuknya yang unik.

Tupper mengiklankan wadah plastiknya dan menjelaskan bahwa tidak ada wadah yang seperti ini saat itu. Wadah plastiknya yang kedap udara memang dibutuhkan oleh ibu rumah tangga saat itu. Tahun 1947, House Beautiful memotret wadah-wadah di dapur Tupper Company dengan judul “Fine Art for 39 cents.” Dan mengomentari dengan kalimat, “Plastik…. Cara Terbaik untuk Hidup Riang.”

Tahun 1949, Tupper menciptakan kata Tupperware. Tapi Tupper belum bisa mencapat penjualan seperti yang dibayangkannya di awal. Banyak orang yang tidak mengerti manfaat dan nilai lebih dari produknya. Tupper tidak menjualnya dengan cara retail, di departmenen store. Tahun 1950, Tupper gagal memasuki pasar domestik.

bus_kit

Walaupun Tupper sangat brilian dalam menciptakan peralatan dapur dari plastik, dia tidak memiliki sentuhan wanita dalam pemasarannya. Adalah Brownie Wise, seorang ibu tunggal paruh baya di Detroit yang tidak seperti orang-orang pada era pasca perang, mencari pendapatannya dengan melakukan penjualan mandiri, yang kemudian dikenal dengan nama direct selling (penjualan langsung). Wise menjadi penjual mandiri berbagai produk dari berbagai perusahaan. Wise bekerja sama dengan Stanley Home Products yang menjual—salah satunya—Tupperware.

Tahun 1948, Wise menciptakan ”Patio Parties” sebagai cara untuk menjual persediaan Tupperwarenya. Dia menambahkan produk lain, seperti lipstik dan sabun mandi sebagai hadiah dan menemukan bahwa wanita senang datang ke pesta-pestanya. Dia kemudian bisa menghasilkan $100 seminggu dalam penjualan Tupperware, dan mulai merekrut wanita lain untuk menjual Tupperware. Penjualannya untuk Tupperware adalah yang tertinggi di seluruh negeri dan Tupper menandai Wise sebagau seseorang yang bisa membawa Tupperware memperoleh kesuksesan dalam penjualan.

Tahun 1951, Tupper memanggil Wise dan belajar tentang Patio Parties. Wise, bisa meyakinkan Tupper bahwa walaupun dia tidak terdidik dari sekolah bisnis, tapi dia berhasil karena memahami karakter ibu rumah tangga dan konsumen biasa, dan penjualannya membuktikan hal itu. Karena berhasil diyakinkan, Tupper mengangkat Wise menjadi wakil presiden di perusahaannya yang bertanggung jawab dalam distribusi Tupperware dan membangun jaringan penjualan.

Tupper terus melakukan produksi dan inovasi dalam menghasilkan Tupperware, sementara Wise bertanggung jawab dalam public relation, promosi dan penjualan. Hasilnya luar biasa, bahkan banyak wanita tidak bekerja tetap karena bisa memperoleh pendapatan dengan menjual Tupperware. Rencana Brownie Wise adalah menciptakan armada wanita yang bekerja untuk dirinya sendiri, tidak digaji, yang bisa mengadakan Patio Parties di seluruh negara. Membagi wilayahnya berdasarkan teritori tertentu, Wise merekrut manajer regional, manajer cabang, manajer distrik sehingga penjualan Tupperware sangat luar biasa.

Oktober 1951, majalah Opportunity menampilkan iklan yang menarik, ”penghasilan cepat.. hanya dengan mendatangi pesta.” Tupperware mejnadi era baru dari gaya hidup ibu rumah tangga di Amerika!.. tidak perlu keterampilan khusus dan pengalaman menjual untuk memperoleh penghasilan dari Tupperware. Tupperware Parties menyebar ke seluruh Amerika dan kemudian berubah tidak hanya menjadi ajang penjualan Tupperware. Setiap pesta biasanya didatangi oleh 12 orang, dan penyelenggara biasanya bisa memperoleh penjualan senilai $500 seminggu.

Beberapa orang menggunakan Tupperware sebagai barter untuk ditukar dengan wadah lainnya, bahkan ditukar dengan jasa perawatan anak karena kesibukan. Ibu rumah tangga yang datang ke Tupperware Party biasanya tidak hanya membeli produk, tapi juga belajar menjual dan mendapatkan teman-teman baru dan bersosialisasi. Tupperware Parites menjadi fenomena budaya, karena Wise merancang cara penjualan yang membangun percaya diri dan menjalin sosialisasi antar ibu rumah tangga.

Tahun 1954, Tupperware memiliki jaringan 20,000 dealer, distribtor dan manajer. Brownie Wise menjadi wanita pertama yang menjadi cover di Business Week. Hari ini, ada sebuah Tupperware Party setiap 2.2 detik, dan penjualan Tupperware 85% berada di luar Amerika.

VALUE

Walaupun bisnis bisa menciptakan produk luar biasa, tapi seringkali konsumen tidak melihat keuntungannya. Ini biasa terjadi, ketika sebuah produk karena saking uniknya, sehingga orang tidak tahu harus berbuat apa dengan produk tersebut. Dalam kasus ini, menemukan pasar bukanlah hal yang mudah. Anda harus menemukan orang yang mengerti pasar dan produk itu bisa dijual sebagai sebuah kebutuhan pasar.

(Dari berbagai sumber, disarikan oleh Baban Sarbana)

www.lebahcerdas.com

TUPPERWARE: Sang Pencipta dan Si Tukang Pesta
Tagged on:     

10 thoughts on “TUPPERWARE: Sang Pencipta dan Si Tukang Pesta

  • 5 November, 2009 at 10:49 am
    Permalink

    mantaff nih produk…
    saya punya pengalaman dengan nih produk.. ceritanya pas saya naik bis…daypack saya jatuh… lalu kelindes oleh ban bis yang sarat penumpangnya… pas sampe rumah kubuka donk daypacknya… dimulai dari buku yang koyak… pulpen dan HDD yang plenyok2 (huh 40gb cuy… dulu mah 40gb dah dibilang wow gede bener)… eh malah si tupper lunch saya… kaga mengalami kerusakan yang serius… dlm arti sial HDD yg lebih mahal harganya dari lunch box saya malah hancur…

    sekian dan terima kasih
    wasallam

    Go Green Bogor

    Reply
  • 5 November, 2009 at 12:17 pm
    Permalink

    Tupperware… Produk ‘mahal’ yang memang sangat berkualitas..

    Reply
  • 6 November, 2009 at 8:23 am
    Permalink

    hehehehe..maaf-maaf.. saya bukan jualan produknya ya.. bukan promo Tupperware dan bukan juga agen Tupperware.. ingin menyampaikan message, bahwa kadang menjadi ahli produksi saja ngga cukup, kalau ngga nemu orang yang bisa jual.. sama dengan kita, punya gagasan hebat tapi ngga tau ‘cara jual’ gagasan itu untuk dibeli orang, tetap aja gagasan itu ngga kerasa manfaatnya…
    @Anka… eta cerita yang hebat euy…..
    @Asep… emang, yang muncul di pikiran.. kata MAHAL ya?

    Reply
  • 7 November, 2009 at 11:13 pm
    Permalink

    yang penting dipake.

    masalahnya contohnya ibu saya banyak tupperware dirumah menuh2in aja ga pernah dipake hehe…

    Reply
  • 30 November, 2010 at 11:43 am
    Permalink

    Bagaimana cara membeli tupperware amerik ???

    Reply
  • 3 February, 2014 at 12:36 pm
    Permalink

    mahal b’kualitas di pake seumur barang… mantab!!! TP emang tiada duanya

    Reply
  • 5 August, 2015 at 9:36 am
    Permalink

    Okelah barang mahal,awet??kenapa awet,,,orang akan cenderung merawat dan berhati hati terhadap barang mahal,dan tradisi rata2 memakai barang trsebut pada saat Hari Raya ja,saya rasa selain merk tersebut atau barang barang yg murah pun akan awet kalo perlakuanya sama kaya barang mahal,garansi seumur hidup si barang,lagi2 kembali ke atas,yaitu soal cara pemakaian,1 tahun,2 tahun dan seterusnya,,,tahun berikutnya saat barang tersebut pecah/rusak karena pemakaian,saat akan meminta ganti mustahil akan langsung dapat,dengan alasan model dari barang tsb sdh tidak di produksi lagi,so lagi2 konsumen akan mengeluarkan dana untuk mendapatkan pengganti,,lantas dimana garansi seumur hidup yg di janjikan??

    Reply
  • 22 July, 2016 at 5:55 pm
    Permalink

    hi tuppy lovers.. to the point yaa, ad yg mw barter tupperware dengan total hrg 480rb(blm nett) dgn brg tuppy yg lain nya gk? saya lg butuh HK breaktime tupperware nh…trima kasih ud sempetin baca.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *