<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>blogor.org &#187; seren taun 2009</title>
	<atom:link href="http://blogor.org/tag/seren-taun-2009/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogor.org</link>
	<description>Komunitas Blogger Bogor [Beta]</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Sep 2010 06:12:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Oleh Oleh Dari Seren Taun Sindangbarang</title>
		<link>http://blogor.org/2009/01/16/oleh-oleh-dari-seren-taun-sindangbarang/</link>
		<comments>http://blogor.org/2009/01/16/oleh-oleh-dari-seren-taun-sindangbarang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 02:45:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[seren taun 2009]]></category>
		<category><![CDATA[sindangbarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogor.org/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan sebuah bangsa yang di dalamnya tidak ada lagi warisan kebudayaan, tidak mengenal lagi pengetahuan leluhur di masa lalu, tidak paham lagi soal kearifan lokal dan nilai-nilai agung yang pernah ada sebelumnya. Bangsa semacam ini, tentulah bangsa tanpa asal usul dan tanpa identitas, dimana generasi penerusnya bakal kehilangan acuan masa lalu dan mengalami disorientasi masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://s395.photobucket.com/albums/pp39/prys3107/?action=view&amp;current=serentaun-1.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" src="http://i395.photobucket.com/albums/pp39/prys3107/serentaun-1.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="417" height="530" /></a></p>
<p>Bayangkan sebuah bangsa yang di dalamnya tidak ada lagi warisan kebudayaan, tidak mengenal lagi pengetahuan leluhur di masa lalu, tidak paham lagi soal kearifan lokal dan nilai-nilai agung yang pernah ada sebelumnya. Bangsa semacam ini, tentulah bangsa tanpa asal usul dan tanpa identitas, dimana generasi penerusnya bakal kehilangan acuan masa lalu dan mengalami disorientasi masa depan.</p>
<p>Bangsa semacam ini pula, adalah bangsa yang kemungkinan besar akan menyerah begitu saja dan menyerahkan kehormatannya pada banalnya budaya asing yang masuk lewat derasnya arus informasi dan teknologi komunikasi global abad ini.</p>
<p>Dalam rangka inilah, agaknya kita perlu berlega hati sebagai bagian dari bangsa yang masih menjunjung tinggi jejak kebudayaan lokal. Dan kita pun bisa berkaca bahwa semaraknya perhelatan <strong>Seren Taun Guru Bumi 2009</strong> di Kampung Budaya Sindangbarang, Kabupaten Bogor adalah salah satu buktinya.<span id="more-416"></span></p>
<p><strong>Seren Taun Ke-Empat</strong><br />
Untuk ke-empat kalinya, Kampung Budaya Sindangbarang kembali menggelar Seren Taun Guru Bumi mulai dari 5 Januari 2009 dan berakhir pada 11 Januari 2009. Perhelatan budaya yang bertempat di Desa Pasir Eurih, Kec. Tamansari, Kab. Bogor itu menyiratkan perjalanan ritual dan kesenian lokal kebudayaan Sunda.</p>
<p>Perjalanan Seren Taun yang digelar selama tujuh hari berturut-turut tersebut antara lain yaitu Neteukeun Imah Gede (upacara pembukaan Seren Taun), Ngembang Imah Bali ke Makam Leluhur (ziarah ke makam leluhur warga Sindangbarang yang terletak di Gunung Salak), Sawer Sudat Imah Gede (upacara sudat/ sunat menurut tradisi budaya Bogor), Sebret Kasep Bale Pangriungan (pelaksanaan sudat/ sunat di Bale Pangriungan), Ngukuluan Imah Kolot (mengambil air dari tujuh sumber mata air), Sedekah Kue Imah Gede (warga berkumpul di alun-alun untuk melaksanakan sedekah kue), dan Majiekeun Pare Alun2 Kajeroan (upacara puncak).</p>
<p>Berbagai kesenian Sunda juga ditampilkan seperti Rampak Kendang, Reog Anak-anak, Angklung Gubrag Cipining, Pencak Silat dan sebagainya. Dalam acara ini, hadir pula perwakilan dari Dinas Industri Pariwisata dan Budaya Jabar, Bapeda Provinsi Jabar, DPRD Jabar, Sekda Jabar, Bupati dan Wakil Bupati Bogor, Ketua DPRD Kabupaten Bogor serta beberapa tamu dari negeri kincir Angin Belanda. Segenap warga, baik penduduk setempat maupun tamu yang datang dari berbagai daerah menyaksikan acara tersebut.</p>
<p><strong>Perlintasan Sejarah</strong><br />
Sejatinya, perlintasan sejarah Seren Taun di Sindangbarang telah digelar sejak zaman keemasan Kerajaan Pajajaran. 32 tahun setelah Kerajaan Pajajaran hancur, Seren Taun sempat juga diadakan di berbagai daerah semisal di Kuta Batu, Cibeureum, Cipakancilan dan Sindangbarang sebagai pusatnya. Hal ini terus berlanjut sampai masuknya Islam di Sindangbarang dan sempat dihentikan selama kurang lebih 5 tahun.</p>
<p>Dalam kurun waktu dihentikannya Seren Taun tersebut, terjadi kegagalan panen berturut-turut hingga Seren Taun kembali diadakan dengan format berbeda menjadi sedekah bumi. Hal ini pun berlanjut sampai tahun 1970.</p>
<p>Tahun 1971 Seren Taun sempat ditinggalkan penduduknya seiring menghilangnya satu-persatu rumah panggung adat Sunda. Hingga di tahun 2006, sejumlah tokoh adat yang masih hidup dan budayawan Jawa Barat Anis Djatisunda berusaha merevitalisasikan Seren Taun di Sindangbarang sampai hari ini.</p>
<p><strong>Memaknai Seren Taun</strong><br />
Menyimak pasang surutnya perlintasan sejarah Seren Taun, membuat kita tersadar bahwa sebuah warisan budaya bisa saja punah bila tak ada campur tangan kita di dalamnya. Sebab dengan begitulah warisan budaya yang kita miliki bisa terus bertahan hingga hari ini.</p>
<p>Dan Seren Taun sebagai warisan budaya, mengandung arti serah terima tahun yg lalu kepada tahun yang baru, sebagai wahana syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang diperoleh pada tahun ini dan berharap lebih baik lagi pada tahun berikutnya. Artinya juga, bahwa Seren Taun hendak mengingatkan kita akan keseimbangan kosmologi antara manusia dengan alamnya, dan terutama antara manusia dengan penciptanya.</p>
<p>Keseimbangan kosmologi inilah yang agaknya kian diabaikan masyarakat dunia sehingga menimbulkan berbagai bencana alam, pemanasan global, dekadensi moral dan kehampaan nilai-nilai spiritualitas yang tengah diidap kebanyakan masyarakat modern abad ini.</p>
<p>Maka, tepat bila di hari ini Seren Taun bisa dimaknai sebagai warisan budaya yang mengajarkan kita akan kearifan nilai-nilai lokal dalam menghadapi berbagai permasalahan global. Hingga nanti di Seren Taun berikutnya, kita pun bisa mulai menyatakan diri untuk turut terlibat di dalamnya.</p>
<p>Sumber: Blog <a href="http://prys.ilovebogor.com/2009/01/oleh-oleh-dari-seren-taun-sindangbarang/" target="_blank">Bogorbiru</a> dan Koran Jualbeli Edisi 07 (Februari 2009)</p>
<p>Foto: http://kp-sindangbarang.com/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogor.org/2009/01/16/oleh-oleh-dari-seren-taun-sindangbarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
