<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>blogor.org &#187; lebahcerdas</title>
	<atom:link href="http://blogor.org/author/lebahcerdas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogor.org</link>
	<description>Komunitas Blogger Bogor</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 14:30:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>TUPPERWARE: Sang Pencipta dan Si Tukang Pesta</title>
		<link>http://blogor.org/2009/11/04/tupperware-sang-pencipta-dan-si-tukang-pesta/</link>
		<comments>http://blogor.org/2009/11/04/tupperware-sang-pencipta-dan-si-tukang-pesta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 11:32:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lebahcerdas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[earl tupper]]></category>
		<category><![CDATA[tupperware]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogor.org/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Earl Tupper lahir di Berlin, New Hampshire, dan dibesarkan dalam lingkungan yang membuatnya menjadi seorang entrepreneur secara alamiah. Pada umur 20 tahun, Earl Tupper mengambil kursus jarak jauh dalam bidang bisnis dan advertising. Tahun 1937, dia bekerja sebagai desainer di DuPont, yang membuatnya berinteraksi dengan dunia revolusi dalam bidang plastik. Sebagai desainer, Tupper bertanggung jawab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Earl Tupper lahir di Berlin, New Hampshire, dan dibesarkan dalam lingkungan yang membuatnya menjadi seorang entrepreneur secara alamiah. Pada umur 20 tahun, Earl Tupper mengambil kursus jarak jauh dalam bidang bisnis dan advertising. Tahun 1937, dia bekerja sebagai desainer di DuPont, yang membuatnya berinteraksi dengan dunia revolusi dalam bidang plastik. Sebagai desainer, Tupper bertanggung jawab untuk menciptakan variasi produk, kebanyakan untuk wanita. Dengan semangat inovasinya, kedisiplinan diri dan kemampuan entrepreneurnya, tetap saja Earl Tupper tidak memiliki ’sentuhan wanita’. Wanita kebanyakan tidak menyukai produk rancangannya.</p>
<p><span id="more-570"></span></p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-576" title="Tupperware_Earl_Tup_329601g" src="http://blogor.org/wp-content/uploads/Tupperware_Earl_Tup_329601g-300x200.jpg" alt="Tupperware_Earl_Tup_329601g" width="300" height="200" /></p>
<p>Tahun 1939, Tupper telah cukup belajar tentang plastik sehingga mendirikan perusahaannya sendiri, The Earl S. Tupper Company. Sebagai hasil dari eksperimen jangka panjangnya dengan bahan polyethylene selama Perang Dunia II, Tupper menemukan metode pemurnian produk sampingan dari proses refining minyak mencari naterial yang berdaya tahan, fleksibel, tidak berbau, tidak beracun dan ringan.</p>
<p>Tupper sangat tertarik dengan kekuatan dan daya tahan dari plastik, peralatan yang tidak diperoleh dari pastik yang kaku dan keras, yang biasa digunakan saat itu. Malahan, bagusnya lagi, plastik ini bisa diwarnai dan dicairkan sehingga bisa diubah menjadi berbagai bentuk. Bahan plastik alami sekarang banyak digunakan untuk membuat Tupperware, bahan-bahan yang biasa digunakan bisa dilihat di <a href="http://www.partycasino.com/" target="_blank">http://www.partycasino.com/</a>. Tupper memberi nama bahan polyethylene itu: ”Poly-T: Material untuk Masa Depan” dan mulai bereksperimen, membuat aneka wadah plastik. Karena keunikan peralatannya, Poly-T bisa dibuat ke dalam berbagai bentuk dan Tupper menemukan bahwa dia bisa membuat penutup plastik yang sangat revolusioner dengan menciptakan segel kedap udara.</p>
<p>Tahun 1947, paten dari tutup ber-”segel Tupper” akhirnya keluar. Setelah menghabiskan 42 tahun pertamanya merancang perhiasan kecil yang tidak berharga, Earl Tupper akhirnya bisa menciptakan sesuatu yang bernilai dan dibutuhkan oleh banyak orang pasca perang di Amerika. Tupper pernah dijuluki sebagai Thomas Edison-nya dunia plastik. Alat tupperware pertama adalah wadah untuk kebutuhan dapur berwarna putih susu berukuran 7 ons, yang disebut ”bell tumbler” karena bentuknya yang unik.</p>
<p>Tupper mengiklankan wadah plastiknya dan menjelaskan bahwa tidak ada wadah yang seperti ini saat itu. Wadah plastiknya yang kedap udara memang dibutuhkan oleh ibu rumah tangga saat itu. Tahun 1947, House Beautiful memotret wadah-wadah di dapur Tupper Company dengan judul “Fine Art for 39 cents.” Dan mengomentari dengan kalimat, “Plastik…. Cara Terbaik untuk Hidup Riang.”</p>
<p>Tahun 1949, Tupper menciptakan kata Tupperware. Tapi Tupper belum bisa mencapat penjualan seperti yang dibayangkannya di awal. Banyak orang yang tidak mengerti manfaat dan nilai lebih dari produknya. Tupper tidak menjualnya dengan cara retail, di departmenen store. Tahun 1950, Tupper gagal memasuki pasar domestik.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-578" title="bus_kit" src="http://blogor.org/wp-content/uploads/bus_kit.jpg" alt="bus_kit" width="300" height="244" /></p>
<p>Walaupun Tupper sangat brilian dalam menciptakan peralatan dapur dari plastik, dia tidak memiliki sentuhan wanita dalam pemasarannya. Adalah Brownie Wise, seorang ibu tunggal paruh baya di Detroit yang tidak seperti orang-orang pada era pasca perang, mencari pendapatannya dengan melakukan penjualan mandiri, yang kemudian dikenal dengan nama direct selling (penjualan langsung). Wise menjadi penjual mandiri berbagai produk dari berbagai perusahaan. Wise bekerja sama dengan Stanley Home Products yang menjual—salah satunya—Tupperware.</p>
<p>Tahun 1948, Wise menciptakan ”Patio Parties” sebagai cara untuk menjual persediaan Tupperwarenya. Dia menambahkan produk lain, seperti lipstik dan sabun mandi sebagai hadiah dan menemukan bahwa wanita senang datang ke pesta-pestanya. Dia kemudian bisa menghasilkan $100 seminggu dalam penjualan Tupperware, dan mulai merekrut wanita lain untuk menjual Tupperware. Penjualannya untuk Tupperware adalah yang tertinggi di seluruh negeri dan Tupper menandai Wise sebagau seseorang yang bisa membawa Tupperware memperoleh kesuksesan dalam penjualan.</p>
<p>Tahun 1951, Tupper memanggil Wise dan belajar tentang Patio Parties. Wise, bisa meyakinkan Tupper bahwa walaupun dia tidak terdidik dari sekolah bisnis, tapi dia berhasil karena memahami karakter ibu rumah tangga dan konsumen biasa, dan penjualannya membuktikan hal itu. Karena berhasil diyakinkan, Tupper mengangkat Wise menjadi wakil presiden di perusahaannya yang bertanggung jawab dalam distribusi Tupperware dan membangun jaringan penjualan.</p>
<p>Tupper terus melakukan produksi dan inovasi dalam menghasilkan Tupperware, sementara Wise bertanggung jawab dalam public relation, promosi dan penjualan. Hasilnya luar biasa, bahkan banyak wanita tidak bekerja tetap karena bisa memperoleh pendapatan dengan menjual Tupperware. Rencana Brownie Wise adalah menciptakan armada wanita yang bekerja untuk dirinya sendiri, tidak digaji, yang bisa mengadakan Patio Parties di seluruh negara. Membagi wilayahnya berdasarkan teritori tertentu, Wise merekrut manajer regional, manajer cabang, manajer distrik sehingga penjualan Tupperware sangat luar biasa.</p>
<p>Oktober 1951, majalah Opportunity menampilkan iklan yang menarik, ”penghasilan cepat.. hanya dengan mendatangi pesta.” Tupperware mejnadi era baru dari gaya hidup ibu rumah tangga di Amerika!.. tidak perlu keterampilan khusus dan pengalaman menjual untuk memperoleh penghasilan dari Tupperware. Tupperware Parties menyebar ke seluruh Amerika dan kemudian berubah tidak hanya menjadi ajang penjualan Tupperware. Setiap pesta biasanya didatangi oleh 12 orang, dan penyelenggara biasanya bisa memperoleh penjualan senilai $500 seminggu.</p>
<p>Beberapa orang menggunakan Tupperware sebagai barter untuk ditukar dengan wadah lainnya, bahkan ditukar dengan jasa perawatan anak karena kesibukan. Ibu rumah tangga yang datang ke Tupperware Party biasanya tidak hanya membeli produk, tapi juga belajar menjual dan mendapatkan teman-teman baru dan bersosialisasi. Tupperware Parites menjadi fenomena budaya, karena Wise merancang cara penjualan yang membangun percaya diri dan menjalin sosialisasi antar ibu rumah tangga.</p>
<p>Tahun 1954, Tupperware memiliki jaringan 20,000 dealer, distribtor dan manajer. Brownie Wise menjadi wanita pertama yang menjadi cover di Business Week. Hari ini, ada sebuah Tupperware Party setiap 2.2 detik, dan penjualan Tupperware 85% berada di luar Amerika.</p>
<p>VALUE</p>
<p>Walaupun bisnis bisa menciptakan produk luar biasa, tapi seringkali konsumen tidak melihat keuntungannya. Ini biasa terjadi, ketika sebuah produk karena saking uniknya, sehingga orang tidak tahu harus berbuat apa dengan produk tersebut. Dalam kasus ini, menemukan pasar bukanlah hal yang mudah. Anda harus menemukan orang yang mengerti pasar dan produk itu bisa dijual sebagai sebuah kebutuhan pasar.</p>
<p>(Dari berbagai sumber, disarikan oleh Baban Sarbana)</p>
<p><a href="http://www.lebahcerdas.com">www.lebahcerdas.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogor.org/2009/11/04/tupperware-sang-pencipta-dan-si-tukang-pesta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Helmy Yahya dan Kampus</title>
		<link>http://blogor.org/2009/10/26/helmy-yahya-dan-kampus/</link>
		<comments>http://blogor.org/2009/10/26/helmy-yahya-dan-kampus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 05:14:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lebahcerdas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogor.org/?p=526</guid>
		<description><![CDATA[Semuanya berawal dari Jazz Goes to Campuss di tahun 1980-an yang dibawa oleh Ireng Maulana ke STAN, saat itu masih di Purnawarman. Helmy Yahya menjadi panitia pelaksananya. Melihat kerja yang demikian rapi, baik dari persiapan, pelaksanaan maupun pelaporan, maka Ireng Maulana langsung menawarkan pekerjaan kepada Helmy Yahya. Helmy Yahya yang saat itu belum lulus langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left; ">Semuanya berawal dari Jazz Goes to Campuss di tahun 1980-an yang dibawa oleh Ireng Maulana ke STAN, saat itu masih di Purnawarman. Helmy Yahya menjadi panitia pelaksananya. Melihat kerja yang demikian rapi, baik dari persiapan, pelaksanaan maupun pelaporan, maka Ireng Maulana langsung menawarkan pekerjaan kepada Helmy Yahya.</p>
<p style="text-align: left; ">Helmy Yahya yang saat itu belum lulus langsung menduduki jabatan sebagai Finance Manager di Ireng Maulana Management. Tentu saja diterima dengan senang hati. Jadilah Helmy Yahya sebagai salah satu manajer di jajaran Artist Management.<span id="more-526"></span></p>
<p style="text-align: left; "><img class="aligncenter size-full wp-image-527" title="helmi_yahya" src="http://blogor.org/wp-content/uploads/helmi_yahya.jpg" alt="helmi_yahya" width="150" height="196" /></p>
<p style="text-align: left; ">
<p style="text-align: left; ">Kebetulan, saat itu Ireng Maulana All Star adalah band pengiring tetap di acara Berpacu Dalam Melodi karya Ani Sumadi Production, yang dibawakan oleh Koes Hendratmo. Suatu saat, Ireng Maulana memperkenalkan Helmy Yahya kepada Ani Sumadi, yang kebetulan sedang mencari pembuat soal untuk kuis-kuisnya. Saat itu Ani Sumadi sudah dikenal sebagai Ratu Kuis Indonesia.</p>
<p style="text-align: left; ">Helmy Yahya langsung menerima tawaran bergabung dengan Ani Sumadi, mulai dari pembuat soal, sampai menjadi orang nomor 2 di Ani Sumadi Production. Itulah awal perkenalan Helmy Yahya dengan dunia entertainment. Diawali dengan seorang Ireng Maulana yang mengetahui dan menghargai kemampuan Helmy Yahya, mengenalkannya kepada Ani Sumadi, bekerja keras di Ani Sumadi Production dan memanfaatkan semua kesempatan untuk menguji kemampuannya, baik di belakang layar maupun akhirnya muncul dan maju ke depan layar.</p>
<p style="text-align: left; ">Setelah belajar selama 13 tahun, akhirnya bisa lepas dari bayang-bayang Ani Sumadi dan mendapat gelar tak resmi dari masyarakat sebagai Raja Kuis. Produktivitasnya malah melebihi Ani Sumadi si Ratu Kuis.</p>
<p style="text-align: left; ">Helmy Yahya menjadi seperti sekarang, tidak terlepas dari keberanian orang-orang professional kembali ke kampus, mengadakan acara-acara bagus ke kampus, dan siapa tahu bisa menemukan bakat-bakat besar yang butuh diberi kesempatan.</p>
<p style="text-align: left; ">Adhie MS giat dengan kampanye Orchestra Goes to Campuss, mungkin suatu saat nanti ada composer besar dari kegiatan itu.</p>
<p style="text-align: left; ">Ine Febrianti dengan film Beth-nya dulu, malah lebih senang menjajakan filmnya melalui diskusi-diskusi dari kampus ke kampus.</p>
<p style="text-align: left; ">Anak-anak kampus punya kemampuan, hanya butuh orang-orang professional yang mengetahui kemampuan mereka dan memberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. Akan muncul sinergi yang produktif jika itu bisa dilakukan.</p>
<p style="text-align: left; ">
<p style="text-align: left; ">
<p style="text-align: left; ">
<p style="text-align: left; ">Baban Sarbana</p>
<p style="text-align: left; "><a href="http://lebahcerdas.com" target="_blank">lebahcerdas.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogor.org/2009/10/26/helmy-yahya-dan-kampus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

